Hiruk-pikuk industri film dan televisi global akan kembali bergema di Kota Abadi. MIA Market, pasar film dan TV internasional yang digelar di Roma, mengumumkan jajaran pembicara kelas dunia untuk edisi tahun ini. Nama-nama seperti Marco Bassetti, CEO Banijay Entertainment; Anna Marsh, wakil CEO Canal+ Group sekaligus CEO Studiocanal; Jane Tranter, CEO Bad Wolf; dan sutradara pemenang penghargaan Edward Berger—yang dikenal lewat film "All Quiet on the Western Front"—akan menjadi sorotan utama. Kehadiran mereka menandai semakin eratnya hubungan antara Eropa dan pasar konten global, terutama di tengah gelombang digitalisasi dan konten streaming yang tak terbendung.
Pertemuan Para Raksasa Konten
MIA Market bukan sekadar ajang pameran; ia adalah jembatan antara produser, distributor, dan platform digital. Marco Bassetti, yang memimpin Banijay—salah satu grup produksi konten terbesar di dunia—diharapkan membahas strategi ekspansi ke pasar Asia dan Amerika Latin. Sementara Anna Marsh, yang juga menjabat sebagai chief content officer Canal+, akan menyoroti bagaimana kanal premium beradaptasi dengan kebiasaan menonton generasi baru.
"Kami melihat pergeseran besar dari siaran linear ke on-demand. MIA adalah tempat untuk merumuskan masa depan kolaborasi lintas benua," ujar Marsh dalam pernyataan pra-acara.Jane Tranter, yang sukses membawa Bad Wolf memproduksi serial "His Dark Materials", akan berbagi pengalaman tentang produksi internasional yang tetap setia pada akar cerita lokal. Sedangkan Edward Berger, yang filmnya meraih empat Oscar, dijadwalkan membahas seni adaptasi sastra perang ke layar lebar.
MIA Market: Panggung Strategis Eropa
Diselenggarakan setiap tahun di pusat kota Roma, MIA Market telah menjadi platform vital bagi para pemangku kepentingan industri konten. Tahun ini, acara yang berlangsung selama beberapa hari tersebut akan mempertemukan lebih dari 2.000 peserta dari 60 negara. Selain panel diskusi, akan ada sesi pitching, presentasi proyek baru, dan forum investasi. Menurut penyelenggara, MIA berfokus pada tiga pilar: inovasi konten, distribusi global, dan keberlanjutan produksi. Dengan hadirnya tokoh-tokoh seperti Bassetti dan Marsh, MIA ingin memperkuat posisi Roma sebagai jembatan antara Hollywood, Eropa, dan pasar berkembang.
Data dari laporan industri menunjukkan bahwa pasar konten Eropa tumbuh 8% per tahun dalam lima tahun terakhir, didorong oleh permintaan serial orisinal dan film dokumenter. Banijay sendiri mengelola lebih dari 150 perusahaan produksi di 20 negara, sementara Canal+ Group mengoperasikan layanan di 50 negara. Kolaborasi antara kedua raksasa ini—melalui proyek bersama seperti serial adaptasi novel best-seller—menjadi salah satu topik hangat yang akan dibahas di MIA.
Edward Berger: Dari Front Barat ke Panggung Roma
Sutradara Edward Berger bukanlah nama asing bagi pencinta film. Karyanya "All Quiet on the Western Front" tidak hanya memenangkan Oscar untuk Film Internasional Terbaik, tetapi juga meraih pujian karena penggambaran perang yang brutal dan manusiawi. Di MIA, Berger dijadwalkan memimpin workshop tentang adaptasi sastra klasik menjadi narasi visual yang relevan dengan zaman.
"Saya ingin menunjukkan bahwa cerita perang universal bisa diterjemahkan ke dalam bahasa sinema apa pun, asalkan kita tidak kehilangan esensi kemanusiaan," kata Berger dalam wawancara eksklusif dengan Roma Today.Kehadirannya diyakini akan menarik minat para sineas muda yang ingin belajar dari proses kreatifnya.
Perbandingan Peran Para Pembicara
| Nama | Posisi | Fokus di MIA |
|---|---|---|
| Marco Bassetti | CEO Banijay | Ekspansi global dan produksi multi-negara |
| Anna Marsh | Wakil CEO Canal+, CEO Studiocanal | Strategi konten premium dan streaming |
| Jane Tranter | CEO Bad Wolf | Produksi internasional dengan akar lokal |
| Edward Berger | Sutradara | Adaptasi sastra dan sinema perang |
Tak hanya itu, MIA Market tahun ini juga akan menyoroti tren kecerdasan buatan dalam produksi film. Beberapa panel akan membahas bagaimana AI membantu pra-produksi, penulisan skenario, hingga pasca-produksi. Namun, para pembicara seperti Marsh menekankan bahwa teknologi tidak akan menggantikan kreativitas manusia, melainkan menjadi alat untuk mempercepat distribusi dan personalisasi konten.
Dampak bagi Industri Konten Indonesia
Meskipun MIA Market berpusat di Eropa, dampaknya terasa hingga Asia. Produser Indonesia yang ingin menembus pasar global sering menjadikan MIA sebagai batu loncatan. Tahun lalu, tiga proyek dari Indonesia masuk dalam sesi pitching dan mendapat perhatian dari distributor Eropa. Dengan kehadiran tokoh seperti Bassetti dan Tranter, peluang kerja sama antara rumah produksi Tanah Air dan Banijay atau Bad Wolf semakin terbuka. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia bahkan telah menyatakan minat untuk mengirim delegasi ke MIA tahun depan.
Masa Depan Pasar Konten Global
Jika ditarik benang merah, kehadiran para pemimpin ini di MIA Market menunjukkan bahwa industri konten tidak lagi berbatas geografis. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu panelis dalam konferensi pers:
"Kita sedang menyaksikan lahirnya ekosistem di mana cerita dari mana pun bisa menjangkau siapa pun. MIA adalah katalisnya."Dengan jadwal yang padat—mulai dari keynote hingga networking dinner—MIA Market Roma 2024 diprediksi menjadi salah satu acara paling berpengaruh bagi masa depan film dan TV global.
Comments (0)