Lula Tuding Meta Intervensi Pilpres Brazil, Pengadilan Beri Ultimatum 48 Jam
Brasilia — Ketegangan politik menjelang putaran kedua Pemilihan Presiden Brazil 2025 memanas setelah kubu petahana Luiz Inacio Lula da Silva menuding raksa
Brasilia — Ketegangan politik menjelang putaran kedua Pemilihan Presiden Brazil 2025 memanas setelah kubu petahana Luiz Inacio Lula da Silva menuding raksasa media sosial Meta melakukan intervensi elektoral. Pengadilan Tinggi Pemilu Brazil (Superior Electoral Court/TSE) resmi memberikan ultimatum 48 jam kepada Meta untuk menjelaskan dugaan pembatasan jangkauan konten kampanye Lula.
Laporan yang beredar Sabtu waktu setempat menyebutkan bahwa platform milik Meta—meliputi Facebook, Instagram, dan WhatsApp—diduga menekan jangkauan (reach) unggahan dari akun resmi kampanye Lula. Tudingan ini muncul di tengah persaingan sengit menghadapi pesaingnya dari kubu kanan, Flavio Bolsonaro, menjelang pemungutan suara putaran kedua pada 25 Oktober.
Kronologi Ultimatum Pengadilan Pemilu
- Sabtu pagi waktu Brasilia: Tim kampanye Lula melayangkan laporan resmi ke TSE, menuduh Meta melakukan pembatasan algoritmik terhadap konten mereka tanpa penjelasan transparan.
- Siang hari: TSE mengeluarkan perintah resmi yang memberi Meta tenggat 48 jam untuk mengklarifikasi apakah benar terjadi pengurangan jangkauan terhadap unggahan kampanye Lula.
- Sore hingga malam: Meta belum memberikan pernyataan resmi terkait tudingan tersebut. Kubu Lula terus menekan publik agar kasus ini menjadi perhatian internasional.
- Mendatang: Jika Meta gagal memenuhi panggilan, TSE berwenang menjatuhkan sanksi administratif hingga pembatasan operasional platform di wilayah Brazil.
Meta di Pusat Kontroversi Elektoral
Ini bukan pertama kalinya Meta menghadapi sorotan di Brazil. Pada pemilu sebelumnya, platform ini kerap dituding lambat menangani disinformasi dan hoaks politik yang menyebar masif melalui WhatsApp dan Facebook. Kali ini, tuduhan datang langsung dari kubu kekuasaan yang merasa dirugikan secara algoritmik.
"Kami tidak akan tinggal diam jika demokrasi diganggu oleh kepentingan korporasi asing. Pengadilan harus memastikan setiap suara rakyat Brazil terlindungi," demikian pernyataan tim kampanye Lula dalam siaran persnya.
Kubu Flavio Bolsonaro belum memberikan komentar resmi terkait laporan ini. Namun, sejumlah pengamat politik menilai tuduhan tersebut bisa menjadi senjata ganda: di satu sisi mengangkat isu kedaulatan digital, di sisi lain berisiko memicu narasi bahwa Lula sedang mencari kambing hitam menjelang pemungutan suara yang diprediksi berlangsung ketat.
Dampak pada Putaran Kedua
Dengan selisih elektabilitas yang tipis, setiap insiden digital berpotensi mengubah peta dukungan. Jutaan pemilih Brazil bergantung pada media sosial sebagai sumber informasi utama. Jika terbukti ada pembatasan jangkauan yang tidak wajar, hal ini bisa memicu gelombang protes dari pendukung Lula sekaligus menggoyang kepercayaan publik terhadap integritas platform digital asing.
- 48 jam tenggat resmi dari TSE kepada Meta.
- 25 Oktober jadwal putaran kedua Pilpres Brazil.
- 3 platform Meta yang disorot: Facebook, Instagram, WhatsApp.
- Intervensi elektoral menjadi tuduhan utama kubu Lula.
Hingga berita ini diturunkan, Meta masih bungkam. Dunia menanti apakah raksasa teknologi itu akan membuka data internalnya atau menghadapi konsekuensi hukum di salah satu pasar terbesarnya di Amerika Latin.
Comments (0)