Nov 04, 2026
World

YAMAN — Houthi Guncang Kawasan Teluk dan Ancam Jalur Pelayaran Global

SANAA — Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian memuncak menyusul manuver agresif kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Kelompok yang d

YAMAN — Houthi Guncang Kawasan Teluk dan Ancam Jalur Pelayaran Global

SANAA — Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian memuncak menyusul manuver agresif kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Kelompok yang didukung oleh Iran ini telah bertransformasi dari faksi pemberontak lokal di pegunungan utara Yaman menjadi kekuatan asimetris regional yang mampu menyandera stabilitas perdagangan maritim dunia di Selat Bab el-Mandeb.

Pakar dinamika Timur Tengah dan spesialisasi Yaman, Profesor Thomas Juneau, dalam wawancaranya dengan jurnalis Gavin Lee di France 24, membedah bagaimana kelompok yang memiliki nama resmi Ansar Allah ini berhasil mengejutkan negara-negara monarki Teluk dan memproyeksikan ancaman nyata terhadap rantai pasok global.

Dinamika Internal dan Represi Rezim Houthi

Kelompok Houthi berakar dari gerakan kebangkitan Syiah Zaidiyah pada dekade 1990-an yang memprotes marjinalisasi ekonomi dan dominasi pengaruh Wahabi di Yaman utara. Setelah berhasil merebut ibu kota Sanaa pada tahun 2014, mereka menerapkan sistem pemerintahan teokratis yang sangat otoriter dan represif di wilayah yang mereka kuasai.

"Houthi bukan sekadar milisi gerilya biasa, melainkan rezim berwatak represif yang memiliki doktrin ideologis kuat serta tekad untuk memaksakan hegemoni di Yaman dan kawasan," ujar Profesor Thomas Juneau.

Kronologi Transformasi dan Ancaman Maritim

Transformasi kapabilitas militer Houthi menjadi momok bagi komunitas internasional terjadi melalui serangkaian tahapan strategis:

  1. Konsolidasi Wilayah (2014–2015): Houthi merebut Sanaa dan mengusir pemerintahan resmi Yaman yang diakui internasional, memicu intervensi militer koalisi pimpinan Arab Saudi.
  2. Peningkatan Senjata Asimetris (2016–2022): Melalui penyelundupan dan transfer teknologi rudal balistik serta drone bunuh diri dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, kelompok ini mampu meluncurkan serangan jarak jauh ke kota-kota strategis di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
  3. Blokade Maritim Bab el-Mandeb (2023–Sekarang): Houthi memperluas medan operasi ke Laut Merah dengan menargetkan kapal kargo komersial internasional, yang memicu lonjakan premi asuransi pengapalan dan gangguan rute pasokan global.

Dampak Strategis terhadap Perdagangan Dunia

Selat Bab el-Mandeb merupakan titik sumbat (chokepoint) maritim yang sangat sempit di antara Yaman dan kawasan Tanduk Afrika. Jalur ini mengalirkan sekitar 12 persen dari total volume perdagangan dunia dan hampir 30 persen lalu lintas kontainer global menuju Terusan Suez.

Akibat serangan roket dan drone Houthi, mayoritas perusahaan pelayaran raksasa dunia terpaksa mengalihkan rute kapal mereka memutari Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Langkah pengalihan ini menambah waktu tempuh sekitar 10 hingga 14 hari serta meningkatkan biaya bahan bakar dan operasional secara signifikan, yang pada akhirnya memicu tekanan inflasi di pasar internasional.

Ketergantungan strategis Houthi pada Iran memberikan Teheran alat tawar-menawar geopolitik yang sangat murah namun berdaya rusak tinggi terhadap Barat dan sekutunya di kawasan Teluk, menjadikan krisis Yaman sebagai episentrum ketidakpastian global yang sulit diredam dalam waktu dekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS Putri Anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User

Recommended Posts

Popular Tags

Voting Poll